Sahabatku…..Allah lebih mencintaimu (Sebuah renungan akan kehidupan dan kematian)
Kehidupan dan kematian tidak pernah lepas dari keseharian kita. Kehidupan masih menemani bagi mereka yang masih hidup dan begitu juga dengan kematian, ia akan senantiasa menunggu bagi mereka yang masih hidup. Tanggal 16 Januari 2010, 14:01:08 wib saya mendapat sms dari teman kuliah yang sudah pulang kampung,
“Assalamualaikum warahmatullah….saudaraku semua, 16 Januari 2010 saya sama temen, mencari akh maskur ke Ambulu (pen: daerah di Cirebon), maksud kami untuk melacak teman kampusyang ada di wilayah Losari,..saya teringat kita punya temen di wilayah tersebut. Kami bertemu adik dan kakaknya, ya ternyata yang kami cari sudah kembali keharibaan-Nya 6 tahun yang lalu, tepatnya 6 Juni 2004, dia terkena kanker tulang dan sempat di rawat di RS Hasan Sadikin, Bandung. Semoga Allah menempatkan beliau di tempat tertinggi di sisi-Nya, dimasukkan dalam barisan orang-orang yang dicintai-Nya. Amiin. Maaf, saya terlambat menyampaikan informasi ini (Umi, Cirebon).”
Saya coba memutar lintasan memoriku, saya lupa yang mana namanya Maskur itu, maklum sudah tidak bertemu lagi mulai tahun 2003, sejak dia diwisuda. Bahkan sebelum di wisudapun saya tidak sempat bertemu, saya lupa acara apa terakhir bertemu.Terus saya balik bertanya,
“Maaf, Akh Masykur yang mana ya?”
“P’ Maskur dari Cirebon jurusan Teknik Elektro, kakak angkatan qt, wisuda th 2003 takmir masjid NB Barek, beliau akrab denga p’akhwan flores, dekat dengan p’ulil. Sobirul, Hakim, P’Eko Widodo, P’Afifuddin n orang2 takmir masjid NB. Sy akan menemui keluarganya lagi untuk mengambil foto n mengirimkannya, SMS kan saja emailnya.”, begitu penjelasan mba umi, teman satu angkatan yang pernah sama-sama aktif di UKKI (Unit Keagiatan Kerohanian Islam) Politeknik PPKP Yogyakarta.
Setelah itu saya forward pesan tersebut ke teman-teman yang lain.
Ada balasan sms dari akh Andi Klaten menanyakan Maskur yang mana, di UKKI ada beberapa Maskur. Trus saya balik tanyakan ke mba Umi, katanya maskur yang takmir Masjid Nurul Barokah.
Saya coba ingat satu persatu sahabat-sahabat lamaku. Ku putar terus ingatanku, cepat….cepat dan semakin cepat, setiap lintasan ku periksa jangan sampai ada nama akh Maskur yang terlewatkan. Dan…ya ….saya ingat…senyum itu…, senyumannya yang khas jika bertemu denganku, senyum yang tulus, mengembang, ia yang jarang marah, selalu tersenyum jika ada masalah, selalu menyapa dengan ramah. Alhamdulillah saya ingat, Ya akh Maskur takmir Nurul Barokah itu. Ah masa, saya benar-benar terkejut dan seperti tidak percaya mendengarnya.
Kemudian saya sms mba Umi,
“Ya..saya ingat…akh Maskur yang selalu senyum jika bertemu dengan saya, senyum yang khas, takmir Masjid Nurul Barokah”.
“Benar akh..hr ini sy bertemu keluarganya, beliau berpulang sblum angkatan kita diwisuda pd september 2004. Keluarganya menunjukkan pd sy fotonya n sebuah buku yasin yg di dlmnya ada foto n tanggal wafatnya. Kasih tau y lain ya..” Mba Umi menimpali.
Sungguh… saya tidak menyangka, dengan kesibukan kerja dan aktivitas kuliah membuat saya seperti melupakanya. Tapi anehnya kenapa sudah 6 tahun baru terdengar beritanya?. Apakah teman-teman yang lain tidak mengetahui kabar duka ini?.
Ah…kematian, ia sudah menghampiri sahabat-sahabatku, dulu ada akh Neko dan istrinya yang mengalami kecelakaan setelah memeriksakan kesehatan istrinya dari dokter praktek. Ketika akan menyeberang jalan, tiba-tiba ada truk yang melintas dan menabrak motor yang di kendarainya. Keduanya meninggal di tempat kejadian. Saya masih ingat ketika takziah ke kediamannya, jasadnya masih mengeluarkan darah walaupun sudah di bungkus kain kafan. Setelah menyolatkannya, saya dan teman-teman langsung mengantarkan ke pemakaman. Keduanya di makamakan dalam satu lubang. Juga saya teringat dengan akh Dodo, kecelakaan setelah pulang kerja. Ah…kematian, dialah pemutus kenikmatan. Teman-teman yang dulu begitu akrab dan dekat sekarang sudah meninggalkan saya. Saya masih lekat dalam memoriku dengan akh Masykur yang selalu ramah menyapa dengan senyuman tulusnya, dengan akh neko yang jika datang ke Masjid Mardliyyah selalu menyapaku dengan gurauannya, akh Dodo yang dijuluki Sayyid Qutbh oleh teman-temannya dalam pertemuan pekanan. Sedang apakah mereka di alam kubur sana?, Ah…barangkali Allah lebih mencintai mereka sehingga Allah begitu cepat memanggilnya. Saya tidak tahu kapan giliran kita akan menyusul mereka. Kita tidak pernah tahu kapan kematian akan menjemput kita?, ia tidak pernah menelepon ataupun meng sms kita sebelum mengambil ruh kita. Dan ia pasti akan datang menjemput kita. Ya..Allah, terimakasih, Engkau ingatkan diri ini dengan kematian sahabat-sahabatku, Engkau masih memberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Semoga dengannya saya tidak lagi bermalas-malasan dalam beribadah kepada-Mu Ya Rabb, masih santai ketika pangilan-Mu di kumandangkan dan tidak bergegas untuk menghampirinya, masih pulas dengan hangatnya kasur ketika Engkau turunkan malaikat ke bumi untuk mendengar ratapan-ratapan hamba-hamba-Mu, masih sering menyia-nyiakan waktu untuk hal- yang sia-sia, masih belum bisa amanah dengan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaku, masih belum bisa menunaikan janji-janji terhadap sesama makhluk-Mu. Ah…..kelemahan ini masih begitu banyak menyelimuti jiwa yang lemah ini dan Engkau Ya Rabb masih memberikan kesempatan bagi diri ini untuk memperbaiki diri.
Sahabatku…kematianmu adalah obat bagi kami semua yang masih hidup. Semoga Allah melapangkan dan menerangi kuburmu, mengampuni segala kesalahan dan menerima amalmu semuanya. Selamat jalan….saudaraku, maafkan diri ini yang sudah melupakanmu akibat kesibukan duniawi yang menyesakkan dada ini.
Incoming search terms for the article:
- renungan islam kematian (7)
- RENUNGAN KEMATIAN (6)
- renungan kematian islam (5)
- renungan kehidupan islami (2)
- hikmah kehidupan dan kematian (1)
- salamku buat sahabat sahabatku semuanya islami (1)
- renungan untuk kehidupan (1)
- renungan tentang kematian (1)
- renungan kehidupan islam (1)
- masjid nurul barokah yogyakarta (1)
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.















Innalillahi wa inailaihi rajiun, setiap yg bernyawa pasti akan merasakan maut,
smg ini bs menjadi pelajaran buat kita yg msh hidup, sehingga bs memperbaiki diri lbh baik lg…
Salam kenal sobat