Tentang, kontak, download, kursus gratis, hardware, software, pemrograman, tips dan triks, tulisan lepas, motivasi, novel islami

“Suasana itu …muncul kembali”

Posted in ruhiyah on Apr 19, 2010

Minggu kedua Maret 2010, setelah beraktivitas saya singgah di Masjid Mardliyyah UGM untuk melaksanakan shalat isya, setelah itu pulang ke rumah. Sesampainya di utara Teknik UGM, saya belokkan motor saya ke arah toko buku Sadar Ilmu Agency, aku niatkan sejak dari Mardliyyah tadi untuk membaca majalah di tempatnya Pak Tri Lasanto, pemilik toko buku itu, lumayan selain gratis juga bisa menambah wawasan dan menghilangkan kesuntukan dan kelelahan jiwa akibat rutinitas keseharian, barangkali ada sesuatu yang bisa menambah pengetahuan saya. Sudah menjadi kebiasaan saya menyapa penjaga toko itu, mas Hasyim dan mas Pur yang sudah akrab dan cukup lama kenal dengan saya. Setelah itu, saya langsung melihat-lihat majalah baru, ah ada Tarbawi baru. Biasanya kalau keuangan tidak lagi seret dan temanya menarik, aku membeli majalah inspiratif ini, tapi akhir-akhir ini dompet lagi agak menipis, jadi saya cukup numpang baca di Mardliyyah yang langganan Tarbawi atau membaca gratis di toko buku ini. Kebetulan toko ini membolehkan membaca gratis di tempat. Lumayan bisa membantu menghemat keuangan bagi mahasiswa seperti saya. Langsung saja saya mengambil Tarbawi Edisi 223 Th. II Rabiul Awal 1431/11 Maret 2010. Temanya tertulis “Seberapapun, Pastikan Hari Ini Ada Asupan Suasana Religius,” baru baca temanya saja saya merasa ini tema yang cocok dengan suasana religiusitas saya yang mulai menurun. Sepertinya ini cocok dengan suasana ruhiyah saya. Saya keluarkan laptop dari tasku. Sambil menunggu laptop booting, saya membuka rubrik dirosat. Saya baca rubrik utama dan saya berniat menuliskan point-poin penting didalamnya dengan laptop tadi. Setelah menunggu, ternyata laptopku tidak juga mau menyala, seperti hang. Akhirnya saya matikan saja dan mengambil pocket diary dan pena dari tasku. Saya tidak tahu kenapa laptopku tidak menyala, padahal seingat saya tadi sebelum shalat magrib di perpustakaan setelah browsing tidak ada masalah, dulu juga pernah seperti itu, semoga saja tidak ada masalah, dalam hatiku. Langsung saja saya meneruskan membaca tarbawi.
Saya seperti diingatkan oleh majalah ini, selama ini rutinitas kuliah, pekerjaan, browsing sepertinya telah membuat saya agak melupakan suasana religius dalam kehidupan sehari-hari saya. Tilawah yang tidak lagi rutin. Shalat yang tidak lagi khusyu’, waktu yang banyak terbuang sia-sia, kejadian-kejadian sehari-hari seprti tidak membekas di hati ini. Apakah karena selama ini orientasi saya hanya kesenangan fisik semata seperti kata Ibnu Taimiyah bahwa kesenangan yang datang hanya kenikmatan yang dirasakan oleh fisik, sementara kesenangan yang dirasakan dan diketahui oleh hati, ruh dan akal sudah mengendur. Ah..pas sekali…… benar perkataan itu, terus kulanjutkan.
Asupan dalam kehidupan sehari-hari terasa seperti rutinitas yang tidak membekas di hati ini. Suasana ketika mengawali dan mengakhiri hari, suasana ketika berada di rumah, suasana ketika hendak meninggalkan rumah dan ketika akan memulia aktivitas dan ketika dalam kesulitan dan tekanan. Ya poin terakhir suasana ketika mendapat kesulitan, kayaknya ini menarik untuk saya baca dengan seksama.
Kemudian tertulis, “buatlah orang lain tersenyum, maka kesulitan akan terurai,” kata-kata yang menarik dan mengena dengan kondisi saya. Saya melanjutkan kata-kata itu, “jika kita merasakan dalam kesulitan dan stress, tunjukkan kebaikan kepada orang lain, maka akan jadi orang yang merasakan kenyamanan. Jika kita terkena depresi, maka perbuatlah amal shalih, karena amal shalih memberikan pengaruh yang kuat bagi kesembuhan penyakit kita, lebih mujarab dari obat paten sekalipun.” Pas sekali….tadi sewaktu di Mardliyyah saya sempat membuka sms, teman serumah minta dibelikan burjo (bubur kacang ijo), padahal uang didompet sisa beberapa ribu saja, uang kertas dan receh. Tadi saya sempat agak jengkel juga, dalam keadaan lelah, minta dititipi dan uang benar-benar sedang menipis. Tapi setelah membaca pesan tadi seperti ada energi yang mendorong saya untuk membelikan pesanan teman saya tadi. saya bertekad untuk membuat orang lain tersenyum, walaupun saya sulit saya harus tetap membelikan pesanan itu, dan alhamdulillah sisa-sisa uang di tas, dompet dan saku baju, dan sjaket saya cari ternyata masih cukup untuk membeli burjo yang seharga Rp. 2000 saja.
Hari kamis tanggal 11 Maret saya membawa laptop saya ke servis komputer dan ternyata motherboard-nya mati. Ah..untung saya sudah membaca menu religius di Tarbawi tadi. Saya berbaik sangka saja saja, berarti Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik, bisa di perbaiki sehingga bisa digunakan seperti biasa, atau barangkali Allah akan menggantinya dengan yang baru, pikirku.
Saya jadi tersadar akan kealpaan tidak memaknai kesibukan, peristiwa, aktivitas saya sebagai sesuatu yang berharga. Saya bersyukur merasa disentil dengan membaca Tarbawi itu, Rasa sesak di dada akibat keletihan, rutintinitas dan kesulitan seakan mulai berkurang.
Energi religius yang mulai redup itu kita mendapat percikan yang menyemangati diri ini untuk terus menggali dan mengasupi jiwa ini dengan asupan-asupan religius dalam keseharian saya. Benar apa yang dikatakan oleh seorang sastrawan Ahmad bin Yusuf, “Manusia telah mengetahui bahwa kemudahan datang setelah kesulitan, persis seperti datangnya siang seteah gelapnya malam, namun kelemahan manusia selalu saja terjadi di saat bencana menimpa, karena itu jiwa harus di beri kekuatan baru pada saat berada dalam kesulitan, jika tidak maka jiwa akan di penuhi oleh keputusasaan dan dapat menghancurkan diri sendiri.” Ah..inilah saatnya jiwa mendapat kekuatan dengan kesulitan. Kata-kata itu sepertinya pas buat saya, apalagi pada baris berikutnya seperti yang dikatakan oleh seorang filsuf, “Kesulitan itu akan memperbaiki jiwa sebesar kehidupan yang dirusaknya, sedangkan kesenangan akan merusak jiwa sebesar kehidupan yang diperbaikinya.” Jiwa saya memang sedang diperbaiki oleh Allah sekarang ini, mungkin jiwa ini sudah mulai melemah oleh kesenangan dan kesibukan dunia yang mengikis asupan religius dalam diri saya.

Tulisan ini pernah saya kirim ke Majalah Tarbawi rubrik responsi, tapi karena tidak di muat, jadi biar bermanfaat saya sharing di blog ini. Semoga bisa di ambil manfaatnya…………

Incoming search terms for the article:

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Leave a Reply



Berlangganan posting via email?, masukkan email anda:

Delivered by FeedBurner

Jumlah Pembaca:


Page Ranking Tool


  • Amin Rasmin on Facebook